“PERNIKAHAN YANG DILARANG”
MITOS
·
Menurut Kamus Besar Bhasa Indonesia
(KBBI), mitos adalah mi.tos yaitu cerita suatu bangsa tentang dewa dan pahlawan
zaman dahulu, mengandung arti mendalam yang diungkapkan dengan cara gaib.
·
Menurut Sastra Anak, mitos adalah cerita
kepahlawanan, asal usul alam, manusia, atau bangsa yang dipahami mengandung
sesuatu yang suci, yang gaib dan kebenaran cerita mitos sebenarnya dapat
dipertanyakan. Tetapi masyarakat pemilik mitos tidak pernah mempersoalkannya.
Kesimpulan
:
Mitos
adalah kepercayaan sebuah cerita gaib yang tidak boleh dilanggar dah harus
diyakini kebenarannya apabila tidak ingin mendapatkan celaka atau bencana.
“PERNIKAHAN YANG DILARANG”
Pada
suatu zaman di desa Sadang, hiduplah seorang Danyang. Danyang adalah sebutan
untuk seorang sesepuh dalam bahasa Jawa. Ketika itu, Danyang Sadang dukuh Pace
terpikat oleh Danyang Hadiwarno dukuh Gambir. Danyang Sadang dukuh Pace pun
berniat untuk melamar Danyang dukuh Gambir. Namun tanpa alasan yang jelas,
Danyang Hadiwarno dukuh Gambir menolak lamaran Danyang Sadang dukuh Pace.
Karena merasa sangat kecewa lamarannya ditolak, Danyang Sadang dukuh Pace pun
mengucapkan sumpah serapahnya yaitu, ”Kelak disuatu hari desa Sadang tidak akan
pernah besatu dengan Hadiwarno dukuh Gambir”.
Ucapan
dari Danyang desa Sadang dukuh Pace tersebut mengandung arti bahwa tak ada
satupun masyarakat Sadang yang bisa bersatu (menikah) dengan orang Hadiwarno
dukuh Gambir. Mula-mula masyarakat desa Sadang sendiri tidak percaya akan
sumpah serapah dari Danyang dukuh Pace. Namun lama- kelamaan disusul ada cerita
dari seekor yuyu (sebutan untuk
kepiting dalam bahasa Jawa) dari desa Sadang yang menyebrang jalan menuju desa
Hadiwarno dukuh Gambir. Konon ceritanya diketahui bahwa sesampainya yuyu tersebut di desa Hadiwarno dukuh
Gambir diketemukan sudah mati setelah menyebrang batas jalan desa Sadang dengan
desa Hadiwarno dukuh Gambir. Kemudian yuyu yang berasal dari desa Hadiwarno
dukuh Gambir juga yang menyebrang batas jalan desa menuju ke desa Sadang juga
diketemukan sudah mati di desa Sadang tepatnya dibatas jalan dengan desa
Hadiwarno dukuh Gambir.
Masyarakat
semakin percaya dan yakin bahwa ucapan Danyang Sadang dukuh Pace memang benar
adanya. Terlebih-lebih ketika ada warga sekitar yang mencoba tidak mempercayai
sumpah serapah dari Danyang Sadang dukuh pace tersebut. Ada sepasang kekasih
yang saling mencintai dari asli desa Sadang dan asli desa Hadiwarno dukuh
Gambir. Sepasang kekasih tersebut nekat menikah. Sebelum tanggal pernikahannya,
warga sekitar sudah mengingatkan untuk jangan menikah dengan seorang dari desa
Hadiwarno. Namun nasehat itu tidak dihiraukan oleh seorang yang berasal dari
desa Sadang. Pada kenyataannya setelah menikah dan selang beberapa bulan,
seorang warga yang menikah dengan orang desa Hadiwarno dukuh Gambir tersebut
mengalami kecelakaan dan meninggal dunia.
Diulangi
lagi sepasang kekasih dari desa Sadang asli dan desa Hadiwarno Dukuh Gambir
yang kurang beberapa hari akan melangsungkan pernikahan, namun tanpa alasan
yang jelas salah satu mempelai meninggal karena kecelakaan. Pada intinya jika
melanggar masyarakat melanggar mitos yang ada di desa Sadang dengan cara
menikah dengan orang asli desa Hadiwarno dukuh Gambir, maka akan mendapatkan
musibah. Seseorang yang sudah melangsungkan pernikahan, dipercaya masyarakat tidak
akan berlangsung lama. Dan apabila belum menikah, maka akan ada musibah yang
menggagalkan rencana pernikahan tersebut.
“SYUKURAN UNTUK KESELAMATAN"
Konon ceritanya, jika tidak ziarah
dan berdoa membawa makanan ke makam Jaka Satrian akan mendapatkan suatu
halangan pada saat mempunyai hajatan besar. Awal dari berkembangnya cerita ini
tidak diketahui secara pasti asal mulanya. Sedikit cerita saja, diketahui bahwa
ada seorang asli desa Sadang yang memiliki hajat besar yaitu membangun rumah.
Orang asli desa Sadang tersebut tidak membangun rumah di desanya, melainkan di
Jawa Barat tempat tinggalnya sekarang. Orang asli desa Sadang itu melupakan
adat yang dianut masyarakat Sadang karena merasa tidak tinggal di desa Sadang
lagi. Kemudian, setelah membangun rumahnya yang berada di Jawa Bareat,
tiba-tiba orang tersebut mendadak sakit. Penyakitnya pun tidak bisa dijelaskan
secara medis apa penyebabnya.
Karena
sudah putus asa berobat kebeberapa dokter tidak sembuh, atas usul keluarga
orang tersebut dibawa ke Kyai. Terkejutnya, Kyai tersebut mengatakan bahwa saat
dia membangun rumah dia belum dating ziarah dan syukuran di makam Jaka Satrian.
Kemudian orang tersebut dari Jawa Barat bertolak ke desa Sadang mengunjungi
makam Jaka Satrian sekaligus membawa makanan untuk dimakan bersama di makam
Jaka Satrian.
Setelah
berziarah orang tersebut pulang ke Jawa Barat masih dalam keadaan sakit, namun
tak disangkan setelah ia melangkahkan kaki ke Jawa Barat penyakitnya tiba-tiba
hilang. Berkembangnya cerita ini memang tidak diketahui secara pasti apa yang
mendasari asal usul “ Manganan di makam Jaka Satrian”. Namun sampai sekarang
masyarakat Sadang percaya bahwa sebelum hajatan besar harus berziarah dan
membawa makanan untuk dimakan bersama-sama di makam Jaka Satrian. Agar kelak
hajatan yang dijalani mendapat berkah dan terhindar dari bencana. Rumah yang
akan dibangun pun akan kokoh bediri dan sukses.
|
No.
|
Larangan/Pantangan
|
Hukuman
|
Syarat pelaksanaan
|
Waktu pelaksanaan
|
|
1.
|
Masyarakat
asli Sadang tidak boleh menikah dengan masyarakat asli Hadiwarno dukuh
Gambir.
|
Adat
dan cibiran masyarakat sekitar.
|
Sesuai
yang menikah (kedua mempelai).
|
Sesuai
dengan hari pernikahan.
|
|
2.
|
Jika
tidak syukuran dan berziarah ke makan Jaka Satrian, maka hajatan besar akan
mengalami musibah.
|
Adat
dan sesepuh yang membangun desa Sadang.
|
Pergi
ke makam berziarah dan membawa makanan untuk di makan bersama warga sekitar
di makam Jaka Satrian.
|
Sebelum
acara hajatan besar dimulai.
|
Nilai-nilai
yang terkandung dalam Mitos desa Sadang
Dalam
sebuah karya sastra tentunya memiliki sebuah nilai yang tersirat maupun
tersurat. Begitu juga dalam mitos yang ada di desa Sadang. Nilai budaya yang
bisa kita ambil dari mitos ini adalah ketika masyarakat asli Sadang tidak boleh
menikah dengan orang asli desa Hadiwarno dukuh Gambir. Budaya masyarakat akan
hal ini masih dipegang teguh, namun juga ada beberapa masyarakat yang enggan
tau bahkan tak mau tau tentang mitos ini. Nilai budaya yang lain juga terdapat
pada mitos berkunjung ke makam Jaka Satrian dan membawa makanan untuk dimakan
bersama-sama di makam. Bagi masyarakat yang percaya mitos ini, maka akan
melakukan. Begitupun sebalinya apabila tidak percaya akan meninggalkan mitos
ini.
Selain
nilai budaya, mitos di desa Sadang juga mengandung nilai social. Yaitu pada
mitos berkunjung ke makam Jaka Satrian dan membawa makanan untuk dimakan
bersama-sama di makam. Pada dasarnya maksud dan tujuan dari sesepuh desa ini
sangatlah baik. Pesan yang tersirat adalah kita diajarkan untuk bersedekah
dengan orang lain. Tidak banyak-banyak dan bermewah-mewahan. Semua makanan yang
dikirim ke makam akan di makan bersama-sama masyarakat yang ada di sekitar.
Tidak ada tingkatan kasta yang mengharuskan siapa yang boleh memakan makanan
yang dibawa ke makam. Pada intinya, kita duduk berdoa dan makan tanpa memandang
kekayaan atau pangkat dan lain sebagainya.
Nilai
moral yang terkandung pada setiap mitos Sadang tergantung pada individu manusia
yang menganutnya. Mayarakat tentu bisa menilai mana yang realita dan mana yang
fiktif, karena mitos merupakan suatu cerita yang belum diketahui pasti
kebenarannya. Disinilah moral dikaitkan dengan perilaku seseorang yang
mempercayai mitos-mitos uyang ada di desa Sadang. Namun kita sebagai orang awam
hanyalah bisa mengambil sisi positifnya. Pada intinya, jika menilai bahwa mitos
di desa Sadang ini bernilai positif maka lakukan dan percayalah, begitu
sebaliknya apabila kita sebagai orang awam menganggap mitos tersebut negative
dan terlalu dilebih-lebihkan maka ditinggalkan saja.
Deskripsi
Angket desa Sadang
Berdasarkan
angket yang kelompok kami sebar di desa Sadang kecamatan Jekulo kabupaten
Kudus, masyarakat pada umumnya telah mengetahui
adanya mitos-mitos yang berkembang di desa Sadang. Dari 25 angket yang
dikembalikan kepada kelompok kami,72% masyarakat menjawab telah mengetahui
mitos-mitos yang ada di desa Sadang. Namun sepertinya masyarakat tidak
mengetahui secara pasti tentang mitos tidak diperbolehkannya masyarakat asli
Sadang menikah dengan masyarakat aski Hadiwarno dukuh Gambir. Karena 60%
menjaab ya dan 40% menjawab tidak.
Masyarakat
tidak begitu mempercayai jika tidak syukuran di makam akan mengalami musibah,
56% menjawab tidak.namun seebagian masyarakat ada yang percaya, 44% ya. Makam
Jaka Satrian bukan digunakan untuk
tempat meminta-minta seperti meminta keselamatan, kewibawaan dan meminta jodoh.
Terbukti karen 56% menjawab tidak. Peninggalan Nyai Wati yang berupa cobek
emas, kendi emas dan tongkat emas 52% masyarakat percaya masih ada. Dan 48%
tidak percaya karena peninggalan tersebut tidak bisa dilihat oleh kasat mata
oleh orang biasa.
44%
menjawab ya untuk pernyataan di makam Mbah Sonto Joyo terdapat emas dan 46%
menjawab tidak. Konon ceritanya pernah
ada yang menggali tanah disekitar makam Mbah Sonto Joyo, namun tidak memperoleh
apa-apa. Tradisi masyarakat yang membawa kambing ke makam Jaka Satrian untuk
disembelih disana untuk ucapan rasa syukur tidak dibenarkan oleh 64% masyarakat
yang mengisi angket. Dan selebihnya membenarkan. Begitu juga untuk pernytaan
jika masyarakat tidak membawa kambing ke makam, maka akan mengalami sebuah musibah
60% menjawab tidak. Karena telah diketahui tidak ada sejarahnya jika tidak
membawa kambing maka akan mengalami musibah.
68%
menjawab ya untuk pernyataan masih adanya
masyarakat asli Sadang menikah dengan masyarakat asli Hadiwarno dukuh
Gambir. Diketahui bahwa masyarakat yang menikah bukanlah masyarakat yang asli
Sadang. Namun masyarakat yanag menikah adalah campuran Sadang dan desa lain di
sekitar Sadang (blesteran). Cerita yang berkembang tentang asal mula pernikahan
Sadang dan Gambir dilarang karena adanya
dendam sesepuh desa Sadang 56% menjawab ya dan 44% menjawab tidak.
Kesimpulan
dari angket tentang mitos yang ada di desa Sadang adalah sesuatu yang dianggap
keramat yang masyarakat yakini kebenarannya. Mitos tidak bisa hilang dalam
lingkungan masyarakat Sadang yang masih teguh memegang adat budaya yang kuat.
Walaupun sebenarnya tidak perlu ditakutkan, namun pada kenyataannya seorang
yang mengerti agama pun terkadang tetap menjalankan mitos ini. Antara percaya
dan tidak percaya, seharusnya kita lebih percaya kepada Tuhan bahwa segala
musibah adalah takdir bukannya karena melanggar mitos.
Bagus(y)
ReplyDeleteMakasihhhhhhh :D @friskaWalandouw.com
Delete